Untuk Kita Renungkan

repost dari: mesuji
Dec
19
Membaca berita mengagetkan tentang pembantaian di Mesuji, Lampung, Indonesia, hatiku tersentak. Kupikir, kasus seperti ini sudah berakhir di jaman kolonial, seperti penggusuran warga dalam film The Mission, atau paling tidak sudah terkubur bersama Orde Baru, seperti dalam cerita Saman-karya Ayu Utami. Nyatanya, hingga kini masih ada.Dalam film The Mission, rakyat pedalaman Indian, yang tinggal di atas air terjun, dipaksa menyerahkan tanah yang telah lama mereka tinggali-kemudian berhasil dijamah oleh misi 3orang pastur Eropa-kepada Portugis & Spanyol lewat perintah Bapa Uskup setempat, dengan dalih perintah dari Tuhan, karena saat itu Gereja Katolik tergantung sepenuhnya kepada pemerintahan.

Dalam novel Saman karya Ayu Utami, yang merupakan fragmen dari cerpen bersambung Laila Tak Mampir ke New York, pemenang sebuah penghargaan dari luar negeri, seorang pastor yang ditugaskan di daerah Perabumulih, pedalaman Sumatra Selatan pada masa Orde Baru, diculik dan disiksa bersama beberapa aktivis kampung setempat karena dianggap “menghasut” rakyat sehingga melawan penjualan lahan untuk dijadikan perkebunan kelapa sawit oleh pemerintah daerah. Kampung dibakar, aktivis diculik, dan ketika mereka berhasil kabur, mereka masuk dalam daftar DPO sehingga harus berganti identitas.

Di masa Reformasi ini, menginjak tahun ke-13 sejak 1998, kasus serupa ternyata masih saja bergulir. Tanah warga dijual kepada negara lain, yang melawan diringkus dan yang meringkus adalah satuan pengaman dari warga sendiri, bentukan perusahaan asing tersebut, sehingga jatuh korban jiwa dari kedua belah pihak, yang notabene adalah sesama warga lokal.

Ini kasus di Mesuji, daerah Ogan Komering, yang di jamanku SMA sering disebut-sebut oleh guru PPKn ku sebagai tanah kelahirannya yang lestari. Itu dulu.
Kasus serupa sebenarnya sudah banyak terjadi. Kasus Freeport di Papua, yang juga menjadi pertarungan ramai dengan warga, sudah menahun sejak Orba, hingga kini. Kasus pembantaian orang utan di Kalimantan, juga oleh perusahaan asing negara tetangga yang doyan mencuri, juga dengan tawaran uang kepada warga lokal, juga sangat mencengangkan dunia.

Ternyata, semua perkara yang merupakan pelanggaran hak asasi manusia itu hanya berujung di uang. Nyawa manusia dibeli dengan uang, demikian juga tanah dan kekayaan negara, nasionalisme dan kemerdekaan ternyata hanya retorika. Jangan lagi berkata atas nama kesejahteraan rakyat, jika yang menjadi korban lagi-lagi rakyat. Jangan mengatasnamakan devisa negara kalau lagi-lagi hanya masuk ke kantong-kantong yang tak diketahui penggunaannya ke mana habisnya.

tak ada itu nasionalisme
tak ada itu kemerdekaan
tak ada itu rakyat
dan aksi bakar diri yang dilakukan oleh seorang muda bernama Sondang Hutagalung, seorang mahasiswa Universitas Bung Karno, yang notabene idealis dan pendiam, tentunya bukan tanpa alasan. Pihak-pihak yang masih bertanya-tanya apa motivasi di balik aksinya ini hanyalah orang-orang munafik yang pura-pura tak tahu. Teringat aksi serupa oleh pahlawan buruh Korea, Chun Tae-il, yang membakar diri demi memperjuangkan nasib buruh pada 13 November 1970 lalu, tentunya juga tak sia-sia.

“Jikalau biji gandum tidak jatuh ke tanah dan mati, ia tidak berbuah banyak.”
Pesan keluarga mereka berdua sama, “Lanjutkan apa yang telah diperjuangkan oleh anak saya, jangan biarkan perjuangannya berhenti.”

Ketidakadilan dan kesemena-menaan yang selalu menggangguku, seperti dalam tagline akun fb ku, apakah masih bisa diperjuangkan bersama? Atau haruskan semua berhenti pada eutopia yang tak mungkin terpenuhi di dunia fana?

Pertanyaan yang selalu menggantung jawaban yang berat adalah: What can we do then?
Jangan-jangan, kita malah sudah tenggelam dalam zone nyaman kita dan lupa akan sekitar yang masih bergolak?

Diposkan 19th December 2011 oleh

Lihat komentar

  1. Woah… what a nice piece …
    What can we do then ?
    Berenang… jangan sampai tenggelam dalam zona nyaman …

    Balas

  2. Many thx for the support.
    Yup, only one word we could do, “berenang”, dan PR besar kita adalah menterjemahkan kata abstrak itu ke dalam berbagai implementasi yang riil.
    Mari mengimplementasikan “berenang” tersebut.
    Salam kemenrdekaan..

    Balas

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s