Terhadap Terorisme

Hari itu, Kamis, 14 Januari 2016, Plaza Sarinah, Jakarta di bom oleh teroris. Media dan berbagai sosmed ramai memberitakan. Di antara riuh itu, aku menerima email ini:

Sebuah seruan, yang sangat menyentuh hatiku, sebagai bangsa Indonesia..

Apa artinya menjadi Bangsa Indonesia?

Oleh Pandji Pragiwaksono

Saudaraku bangsa Indonesia,

Hari ini kabar menyedihkan muncul ke permukaan. Sebuah tindakan terorisme kembali terjadi, kali ini di tengah jalan Thamrin. Berbeda dengan sebelumnya, kali ini para pelaku bahkan baku tembak dengan pihak kepolisian.

Ada sebuah eskalasi. Ada sebuah perlawanan.

Pertanyaan utama di benak banyak adalah “Apa yang harus saya lakukan?” Lalu pertanyaan berikutnya bermunculan.

“Siapa?”

“Kenapa?”

“Terkait sidang siapa?”

“Perpanjangan kontrak apa?”

“Benarkah hashtag berpengaruh kepada IHSG & dolar?” (yang ini ternyata terbukti tidak ada dampaknya)

Sejujurnya, banyak di antara pertanyaan tadi tidak akan ditemukan jawabannya dalam waktu dekat. Terpenting & terutama, adalah memastikan anda & keluarga selamat. Atau, kabari mereka bahwa anda selamat. Pasti banyak yang menunggu kabar dengan cemas

Terpenting selanjutnya, adalah bersatu.

Reaksi orang macam macam, tidak semuanya sesuai dengan yang anda harapkan. Tapi, tentu tidak semua orang sama seperti anda. Bersabar & sadarlah bahwa terpenting adalah untuk tidak terpecah. Untuk bersatu. Utk padu dalam membuktikan kepada para pelaku. Bahwa dalam usahanya memecah belah kita, mereka tidak mampu.

Ketiga, bijak dalam menyebarkan informasi. Teroris itu tujuannya bukan hanya untuk membunuh. Tapi untuk menyebarkan rasa takut.

Kalau anda menyebarkan kabar yang tidak jelas, tidak bisa dipertanggungjawabkan, juga menyebarkan foto foto yang hanya akan membuat orang takut seperti foto korban yang berdarah darah, sesungguhnya anda memenangkan keinginan teroris itu.

Lagipula, itu tidak perlu. Saya tidak menyebarkan foto berdarah darah karena kalau itu foto Ayah saya, sayapun tidak mau foto itu tersebar. Saya tidak mau dunia melihat Ayah saya seperti itu.

Saudaraku bangsa Indonesia,

Saya tidak ada bersama anda. Tapi semoga anda percaya, bahwa saya yang punya lagu “Kami Tidak Takut” sesungguhnya, takut. Terutama terhadap apa yang bisa terjadi kepada istri dan anak anak saya.

Rasa takut itu wajar.

Rasa takut itu sehat.

Rasa takut itu membuat kita waspada.

Yang kita harus lakukan bersama, secara kolektif, adalah menaklukan takut tersebut. Tidak sendirian. Bergandengan. Anda. Saya. Dia. Mereka. Bersatu. Bersama.

Karena melawan balik itu perlu. Menunjukkan sikap itu perlu. Karena keberanian itu menular. Optimisme tersebar. Dunia menanti apa tindakan kita selanjutnya sebagai bangsa yg merdeka

Mari tunjukkan, apa artinya menjadi Bangsa Indonesia.

source: https:

//www.change.org/id/tentang/apa-artinya-bangsa-indonesia?utm_source=action_alert&utm_medium=email&utm_campaign=490406&alert_id=RfGMWGaDuG_ChQb7kDFLve5W0Jxb8gIXJuxyMb2yfpU0nvlIKXfqJM%3D

as published at my another blog:

http://silvanarw.blogspot.co.id/2016/01/terhadap-terorisme.html

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s