Gunung Buthak via Batu

Gunung Buthak via Batu

Berawal dari iming-iming savana luas dari seorang teman yang sudah naik Gunung Buthak lebih dahulu 2 minggu sebelumnya, dan memang sudah lama ngga nggunung sejak terakhir ke Tambora Lebaran 2015, aku mulai mencari info sana-sini dan mengajak teman sana-sini. Rencana awal memang merayakan New Year’s eve di ketinggian dengan memandang taburan bintang, mencium hijau bau rerumputan, dan beralaskan matras dari dalam tenda di tengah hamparan savana, wuhuuu…. The mountains are calling…

 
rangkaian gunung putri tidur di Malang

Dapat deh gambaran jalur, perkiraan topografi, kelompok, dan persiapan alat. Fix berangkat 31 Des 2015 dengan check point di Terminal Purabaya pukul 14.00 dan turun tgl. 2 Januari 2016 siang, setahun di gunung 😀

H-2, tgl. 29 malam ternyata diputuskan kalau teman-teman berangkat lebih dulu dari jadwal yg sudah disepakati, menjadi tgl. 30 dan yang tersisa hanya aku, mba Sari, dan Adi. Alhasil, waktu sehari tersita untuk menyelesaikan semua pekerjaan yang harus selesai sebelum tahun berganti dan persiapan akhir, yaitu mencari tenda isi 2 orang, karena ternyata Adi juga tak bisa gabung – kena shift malam pada tgl. 31 Des.

Sore itu, Terminal Arjosari hujan deras, hingga pukul 19.00 lebih. Susah sekali mencari angkutan ADL menuju Landungsari. Bapak-bapak yang biasa stay di dekat pangkalan becak di situ sempat menawarkan bangku-bangku di belakang gardu untuk kami tidur kalau sampai malam angkutan tak juga datang; terima kasih, Pak J Ketika akhirnya kami mendapatkan angkutan tersebut, hujan sudah mulai reda, Tuhan memberi tanda, mengijinkan kami melanjutkan perjalanan 🙂 Kota Malang sudah mulai ramai dan penuh sesak manusia yang hendak merayakan malam pergantian tahun, baik di alun-alun kota, sepanjang Malang Kota lama, maupun restoran-restoran, semua sesak. Lampu-lampu taman berwarna-warni yang menghiasi sepanjang jalur hijau dan riuhnya manusia-manusia yang tertawa ria membuat kami lupa akan waktu yang semakin malam. Tiba di Terminal Landungsari pukul 21.00, kami tertinggal 2menit dari angkutan terakhir menuju Kota Batu dan bus kecil Puspa Indah jurusan Kediri sudah tidak beroperasi pada waktu semalam ini. Pilihannya naik ojek, sewa taxi, atau carter angkutan. Kami disarankan untuk menunggu di pangkalan ojek depan indomaret di samping Pos Polisi di pintu luar terminal Landungsari. Sepi, tak ada satu pun ojek, juga taxi. Kami sempat cemas, jangan-jangan kami terpaksa harus menginap di jalan. Tak lama, Bapak penjual di warung kopi samping pos polisi menghampiri kami, menawarkan untuk meneleponkan temannya yang seorang sopir angkutan, supaya kami bisa carter, dan mengantar kami sampai ke Mesjid Besar di seberang alun-alun Kota Batu, sebab kata Bapak-bapak polisi maupun Bapak warung kopi ini, naik gunung malam-malam, apalagi hanya berdua-cewek, tidak aman; bukan macan tapi “macan” ndas ireng; Batu sekarang tidak seperti Batu dulu. Ketika sopir angkutan teman bapak warung kopi ini datang, bapak warung kopi pesan benar-benar kepada temannya supaya mengantar kami ke Masjid saja, besok pagi-pagi baru kami lanjutkan perjalanan ke pos pendakian Panderman; sambil mencarikan penumpang lain untuk angkutan ini supaya kami bisa membayar cukup Rp. 55.000 saja. Baik sekali Bapak ini, tulus membantu kami, padahal kami juga baru kenal; we’ll never forget your help, Sir..

Perjalanan menuju kota Batu sepi, angkutan kami melaju cepat. Rasa tidak rela tidak membuka tenda di atas rerumputan malam ini, dan keyakinan kalau tujuan kami baik, pasti tidak ada sesuatu yang buruk akan terjadi, mendorong kami untuk menego sopir angkutan untuk mengantar kami langsung ke gerbang pendakian. Deal, Rp. 75.000 sampai pertigaan gerbang Jl. Cempaka. Tiba di kota, mulailah kemacetan, di BNS, Museum Angkut, Jatim Park yang membuka wahana baru, dan alun-alun kota. Arus dialihkan lewat jalan alternative namun masih tetap macet. Bapak sopir bercerita, “Batu sekarang seperti surge dunia, lho.. bisa sewa rumah atau villa campur laki-perempuan, nggak perlu pake KTP”, masih berpikir kami cewek nggak bener L padahal jelas-jelas kami bawa carrier dan matras di luar carrier, padahal Bapak warung kopi di Landungsari tadi juga sudah berpesan, dan tujuan kami juga ke pos pendakian.. ya sudahlah..

Sekitar pukul 11 malam waktu itu, kami tiba di pertigaan gerbang Jl. Cempaka. Sambil menunggu ojek, yang dipanggilkan oleh Bapak yang mungkin adalah coordinator di situ, kami bergantian numpang numpang kamar mandi sambil berbelanja di Indomaret. Tariff ojek ternyata hanya Rp. 10.000 /orang untuk sampai ke pos pendakian, padahal jalan naik dan menikung cukup menakutkan kalau kami harus menyetir motor sendiri.

 
peta jalur Buthak – Panderman

Pak Muji, ternyata sudah kakek-kakek, penjaga setia di pos pendakian, bersama beberapa bapak berusia 50-60an, menyarankan kami jangan naik dulu, tunggu ada barengan yang naik ke Buthak, sebab perjalanan jauh. Peta jalur pada selembar kain banner dipasang di samping loket perijinan. Banyak cabang memang, bahkan untuk sekedar sampai perbatasan dengan hutan. Kalau mau ke Latar Ombo, sekitar 1 jam dari pos, kami diijinkan, dan banyak juga yang masih naik ke Latar Ombo semalam itu. Saat kami datang sudah ada 6 orang cowok dengan tujuan Latar Ombo, lalu sekelompok lagi terdiri dari 4 cewek 2 cowok, juga ke sana. Yang cukup membuat kami syok adalah cerita dari mbak di kelompok ini. Dia sudah pernah ke Buthak dan meng-amin-i Bapak-bapak di pos perijinan untuk menunda pendakian kami sampai ada barengan karena pengalaman ketika dia naik, ada monyet warna putih dari ujung kepala sampai ujung kaki yang muncul di tengah hutan dan minta makan, tidak akan pergi sebelum diberi. Ini aneh, setahuku, di Panderman memang banyak monyet, kera, tapi di Buthak tidak pernah aku dengar cerita itu. Agak bergidik juga mendengarnya, sepertinya bukan monyet sungguhan, hadehh…horror juga. Mantaplah sekarang kami untuk menurut, membuka tenda di dekat pos perijinan, dan merelakan ngecamp malam tahun baru di hutan pupus. “Yang paling penting nyawa kalau naik itu, mba”, pesan si mba tadi. Baiklah.. terima kasih sudah memberi kode keras untuk kami ya, mba..

Pukul 1.30 dini hari kami dirikan tenda lalu berusaha tidur tetapi susah. Bunyi kembang api di kota masih riuh dan music dengan speaker besar masih menyala di teras rumah samping pos perijinan.  Entah pukul berapa akhirnya kami terlelap tapi tak lama kami sudah terbangun mendengar kalimat, “Mau naik ke Buthak”, dari pos perijinan. Harus packing nih, lalu bergabung. Buru-buru kami bangun dan minta kelompok tersebut menunggu kami, syukurlah mereka mau 🙂

 
pemandangan dari jalan paving

Pukul 6.30 kami berangkat menapaki jalan paving, ber-10, total 5 cewek 5 cowok, ramee.  Belum-belum, sudah ada sleeping bag yang terurai dari gulungannya, maklum, dibawa di luar packing tas. Naik sedikit sampai di depan rumah orange, foto-foto dulu, hahahaa… yah, santai lah, masih pagi, tak apa.

Lepas jalan pavingan, kami mulai melihat peta yang kami salin dari pos perijinan: 3x ke kanan, dan voilaa… kami masuk ke ladang, jalan menurun dan sempit, ewww…sepertinya kami tersesat, hahahaa… Maka kembalilah kami ke jalan besar terakhir dan mulai mencari tanda. Simpangan yang tergambar di peta ternyata tidak sepenuhnya valid, yang digambarkan hanya cabang yang sangat besar, cabang kecil diabaikan, jadi keep on watching the sign 😀 Setelah lewat segitiga besar, belokan dan habis jalan tanah yang bisa dilalui motor, di antara kebun tebu, tibalah kami di tepi hutan. Perjalanan dalam hutan diperkirakan 6-8 jam sampai tiba di savanna. Kemungkinan terbesar kami berjumpa dengan kelompok kami yang berangkat kemarin di dalam hutan memang, perkiraanku sekitar pukul 12, jika mereka berangkat dari savanna pukul 9an. Yapp, get ready, vegetasi hutan sudah menanti 🙂

Jalanan setapak mulai menanjak, tipis-tipis, sampai kami tiba di perempatan-katakanlah- karena di depan kami ada 3 lorong pepohonan perdu yang semuanya seperti ada jalan. Kami terpaksa berhenti dan melakukan cek jalur lebih dahulu, ternyata jalur yang tengah. Sebagian besar kelompok ini pemula ternyata, sehingga dalam perjalanan naik tipis-tipis ini, beban mulai berpindah 😀

10 meter dari persimpangan pet bocor, sebuah kelompok membangun tenda. Mereka naik tadi malam ternyata, tapi sebelum tengah malam seperti kami tentu saja, dan cowok semua, berlima, oke lah.. Mengisi persediaan air untuk perjalanan, tanpa mengisi jerigen yang dibawa, kami beristirahat sebentar sambil mengobrol dengan 4 orang pendaki yang baru turun dari pendakian kemarin. Pukul 10.15 perjalanan dilanjutkan.

 
main air di pet bocor

Tanah datar di depan merupakan tanda sebelum masuk tanjakan, seperti yang dipesan oleh teman provokator kami, 30-45 menit. Diawali dan diakhiri dengan tanah lapang. Bisa untuk nge-camp kalau misalnya kami berangkat malam atau sore. Di tengah tanjakan, kami menjumpai plang nama F-4 pada sebuah pohon, sesuai dengan yang disampaikan pendaki yang turun: nanti ada blok V, blok S, .. Dalam hati aku berpikir, kok seperti perumahan? Tapi siapa tahu itu memang dibuat oleh Perhutani sebab kata Bapak di pos perijinan, hutan rakyat sudah tidak boleh dimiliki rakyat; masuk akal. Yang agak mengecilkan hati, di tengah tanjakan, seorang Bapak yang jujur mengatakan kalau tanjakan ini belum 25% perjalanan, baru 15%, eaaahhhh… Cemunguth, kawann..

 
awal tanjakan syaitonirojin 45-60 menit

Kelelahan di tanah lapang setelah tanjakan, kelompok mulai memisah dalam berjalan; entah kami berempat yang terlalu cepat atau teman-teman di belakang yang sudah kehabisan tenaga. Perjalanan setelah tanah lapang memang tak seberapa menanjak tetapi mlipir bukit, jadi harus hati-hati. Sampai di tanah lapang lagi, kali ini ada tulisan jelas “Pos V”, bukan blok seperti yang dikatakan teman pendaki tadi. Di depan ada jalur arah ke bawah, yang merupakan jalur pendakian via Dau, demikian info dari 3 mas-mas yang sudah duduk di situ cukup lama sepertinya. Kami memutuskan untuk isi full tank dulu karena menurut 3 mas tersebut, jalan menuju savanna setelah ini menanjak tanpa ampun. Carrier dibuka, kompor, gas, nesting, logistic dikeluarkan, tinggal korek, mana korek? Terpaksa pinjam kepada 3mas dan karena ternyata mati lagi, kami pinjam lagi sampai 2kali, hahahaa… (terakhir, korek gas biru tersebut diberikan kepada kami oleh ketiga mas tersebut. Wah, makasih ya, mas, tau aja kami teledor meletakkan korek :D)

 
Selfi rame-rame di pos 5. Sisi belakang-kiri adalah jalur via Dau.

Pukul 12.15 waktu itu. Rombongan teman-teman yang berangkat mendahului kemarin belum juga bertemu dengan kami, kami mulai khawatir. Ketika ada 7 mas-mas turun, kami mulai cari info. Masih banyak pendaki yang masih bermalam lagi di puncak mapun savanna malam ini, ada juga sekelompok yang anggota kelompoknya cidera – keseleo – saat turun, ah..jangan-jangan ini teman-teman kami? “Ada yang jilbaban di kelompok itu?”, kami cemas. “Ada”, jawab mereka, yang langsung menggugurkan dugaan kami. Berarti bukan teman-teman kelompok kami. Mungkin teman-teman kelompok kami termasuk yang bermalam lagi di sana malam ini. Plan B dijalankan: mba Sari harus turun setelah makan, supaya tidak kemalaman dalam perjalanan di hutan. Aku bisa saja mbarengi mba Sari turun lalu naik lagi bersama teman-teman rombongan Kinibalu nanti agak sore, tapi di luar dugaan, 7 mas-mas tersebut mau turun bersama mba Sari walaupun harus menunggu kami selesai makan dulu, wahhh… banyak sekali orang baik yang kami jumpai dalam perjalanan ini ^-^

Pukul 01.15 p.m. Puas berfoto dan bercanda ramai-ramai, kami berpisah.. Aku, mas Arga, dan Vivian melanjutkan naik; mba Sari dan 7 mas-mas melanjutkan turun.

 
banyak pohon tumbang

Sebenarnya tanjakan menuju savanna tidak seseram yang dikatakan 3 mas tadi, tapi memang jalannya nanjak teruss… vegetasi awalnya hutan dan melewati banyak pohon tumbang, seperti medan jalan dari pos 3 ke 4 di Tambora, lalu dilanjutkan hutan cemara yang habis terbakar 80%-nya, tinggal batang-batang pohon menghitam dan masih banyak pohon tumbang –seperti vegetasi dari pos 4 ke pos 5 Tambora. Hujan mulai turun, bukan hujan sebenarnya – hanya embun yang melebur karena suhu udara lebih rendah daripada titik didih – tetapi cukup rapat. Kami terjang saja, mengingat kami harus segera melewati jurang sebelum hari gelap. Jalan mlipir lagi, sisi kiri kami tepian bukit, dan beberapa bagian tepi jalan yang kami lewati Nampak bekas longsor, maklum, pohon-pohon yang menahan tanah bertumbangan. Di antara naik dan turun tersebut, pada posisi yang tak cukup enak, sekitar pukul 3 sore, kami baru bertemu dengan teman-teman kelompok kami, yang ternyata turun hari ini. Mereka semua memakai jas hujan, sepertinya di atas hujan cukup deras, dan sempat dihajar badai karena ngecamp di puncak. Yah, say goodbye..

 
malah foto sepur-sepuran di tengah kabut-berembun :p

Di balik batu, kami bertemu sepasang mba-mas yang sudah naik ke Buthak untuk kedua kalinya, yang kemudian kami todong mengambilkan foto-foto kami bertiga 😀 Lalu bertemu pula dengan kelompok yang salah satu anggotanya cedera, mereka sih ketawa-ketiwi waktu kami permisi lewat depan tenda mereka – mereka ternyata tidak jadi turun hari ini, menunggu teman yang cedera sedikit membaik.

 
kanan kami jurang
 
jurang

Pukul 5 sore, kami menikung ke kiri dan voilaaa… jurang. Puji Tuhan, cuaca malah sudah benderang, tidak berkabut lagi dan tidak lagi berembun. Kami melangkah dengan hati-hati namun senang, perjalanan kami dimudahkan. Jurang di kanan kami dalamnya sekitar 40-50 meter, seperti vegetasi di Merbabu via Cunthel, namun lebih miring gradiennya. Sepanjang kira-kira 100 meter, didominasi dengan dasar batu-batu, hanya 10% yang dasarnya tanah, jalan setapak di tepi jurang ini relative tidak licin walau saat hujan, hanya tetap harus hati-hati. Beberapa waktu lalu, ada seorang pendaki berumur 18 tahun yang lewat di tepi jurang ini hanya berdua dengan teman pendaki yang berumur 20 tahun, saat malam, dan jatuh ke jurang-tak terselamatkan 😦

 
bersama mba Tri
 
bersama tim yang tersisa
awal savana

5.30 p.m. akhirnya kami tiba di savanna. Rasanya hilang semua lelah, seperti menemukan surga tersembunyi. Savanna diawali dengan sedikit pohon berkayu hitam-sisa terbakar, di tengah-tengah rumput-rumput rendah tumbuh subur di tanah datar yang luas, sampai di ujung sana mentari mulai tenggelam, tertutup kabut juga. Sumber air, yang disebut sendang, berada di hampir ujung dataran, dan dialirkan ke beberapa bak terbuka yang lebih rendah daripada dataran berrumput, di sisi kanan jalan setapak. Di dekat sendang utama, tenda mba Tri-mas Ikto, sepasang mba-mas yang bertemu kami dan jadi fotografer dadakan tadi, didirikan. Tanah di depannya masih kosong, jadi kami buka tenda kapasitas 4 orang-bukan tenda kapasitas 2 yang aku bawa- di sana, sementara Vivian sudah duduk dan jatuh tidur tak bergerak-kecapaian menahan tenda ini di tas-nya selama 7jam perjalanan kami. Ketika tenda berdiri, berhadapan dengan tenda mba Tri, kami masak lanjut makan sehat nasi-sop-teri, dan langsung tidur sampai esok pagi. Sempat terbangun beberapa kali karena lapar tapi malas membuka tenda untuk masak, terbangun lagi karena kiri-kanan-belakang kami sangat ramai kelompok yang baru datang membangun tenda, dan terbangun lagi karena subuh banyak yang mau muncak, summit attack ceritanya. Mas-mas dari tenda depan kami sempat mencoba membangunkan kami untuk muncak bareng tetapi tak satupun dari kami yang mampu menjawab-saking malasnya keluar tenda, hahahaa…

 
Savana tingkat 2. Nampak Mahameru di ujung tangan kanan 🙂
 
jalan menanjak menuju puncak

Pukul 6.30 akhirnya baru kami membuka tenda, masak energen, nasi, mie, oseng-oseng sop, lalu bersiap muncak. Jalan sedikit menanjak melewati bukit namun ternyata di balik bukit masih savanna, savanna tingkat 2 😀 Dari savanna ini, kami bias melihat Mahameru di antara 2 bukit di sisi kiri jalan setapak. Untuk menuju puncak, kami bias lewat jalan setapak lurus yang masih lewat savanna 200m lagi baru masuk hutan cemara atau langsung ambil tikungan ke kanan dan masuk hutan. Kami pilih jalan yang lurus, yang ternyata lebih jauh, dan tetap sama curamnya, hanya saja tidak batu-batu di jalur tersebut sebanyak tikungan ke kanan. Alhasil, kami baru tiba di puncak 50 menit dari saat awal berangkat, padahal kata teman-teman pendaki hanya perlu 30 menit untuk muncak, hmm… tak apa, karena di ujung atas kami masih bisa berfoto dengan latar Mahameru dan hutan pohon tua khas pegunungan – yang entah namanya apa – yang bagus. Di puncak, masih banyak pendaki yang foto-foto dengan membawa plang “Buthak 2868mdpl” turun dari singgasananya, duh… pendaki-pendaki 4L4Y, gemez rasanya, kalau hilang siapa yang tanggung jawab? Maka, ketika ada pendaki beneran yang kemudian memaku plang tersebut beberapa saat kemudian, aku jadi senang sekali 🙂

 

 
mahameru di kejauhan
 
puncak 2868mdpl
 
dengan latar pohon khas pegunungan

Menikmati puncak sekitar 1jam, dan bertemu dengan teman-teman rombongan belakang yang ternyata sampai juga di savanna malam tadi sekitar pukul 9, membuat kami turun lebih seru, lewat jalur pendek yang berbatu-batu. Hanya 20 menit ternyata sudah sampai, kurang dari setengah waktu perjalanan kami naik lewat jalur sebelah. Jangan Tanya metodenya, ngesot pastinya, karena kemiringan yang hampir 90derajat. Jadi aku di depan, member contoh cara ngesot yang benar –ada gunanya juga ternyata- yang lain mengikuti sambil mengambil gambar. 2orang mas-mas terdengar “gedebugan” turun berlari-lari di samping kami, belakangan baru kami tau mereka mas gondreng dan mas ursa mayor –bukan nama sebenarnya pastinya. Yah tak apa, tujuan utama adalah sampai dengan selamat meskipun lambat, bukan cepat.

Di area camp, ada pula yang memanggil-manggil namaku. Ternyata teman-teman rombongan Kinibalu juga sudah sampai tadi malam, dan sudah muncak pagi tadi. Banyak sekali yang datang saat kami tidur ternyata, hahahaa…

 
spot ngesot yang menyenangkan 😉

Pukul 12.10 setelah makan siang mie, nasi, sosis, dan minum hangat, serta berkemas, kami turun dalam rombongan yang naik bersama pukul 6.30 kemarin pagi, diawali dengan doa bersama dulu, seperti waktu akan berangkat naik. Perjalanan pulang terasa lebih cepat, selalu. Hanya dalam waktu 30 menit kami sudah tiba di pos 5. Itu perhitungan waktu dipotong waktu di jalan tadi sempat berhenti 3 kali karena usaha evakuasi anggota kelompok pendaki yang kemarin sore tidak jadi turun karena cedera: digendong punggung dengan hammock oleh mas ursa mayor, 2kali berhenti: memasang dan membetulkan posisi, terakhir membuat tandu. Tak bisa kubayangkan sampai mana mas ursa mayor bakalan kuat menggendong mbak yang cedera tersebut turun sementara medan jalan seperti ini. Ternyata kelompok yang anggotanya cedera tersebut, semua belum makan sejak pagi karena kehabisan logistic dan gas, 4 cowok – mengaku anggota pramuka dan 5 cewek, semua memakai sepatu converse dan sejenisnya, yang notabene licin. Ceritanya, saat turun kemarin, setelah lepas dari lewat jurang, mbak yang sekarang cedera itu lari-lari lalu terpeleset atau keseleo dan beguiling-guling sampai 5kali, parah sepertinya. Sekarang, saat berhenti, otomatis semua pendaki yang turun berhenti menunggu di belakang karena jalan turun ini hanya setapak. Saat berhenti ke-3 kalinya, baru jalan sudah agak lebar sehingga pendaki lain yang akan lewat dipersilakan oleh kelompok mas ursa mayor. Sangat beruntung kelompok yang anggotanya cedera ini bertemu dengan kelompok mas ursa mayor, kalau tidak, siapa yang mampu membawa turun selain tim SAR?

 

 
evakuasi pendaki cedera

Di pos 5 kami tidak berhenti, hanya melihat sampah yang kami tinggal kemarin untuk membawanya turun sekarang, tapi ternyata sudah hilang dibawakan turun oleh pendaki lain yang baik hati J Perjalanan selanjutnya lama, hampir seperti perjalanan naik, karena jalan tanah yang licin. Memang kami masih ngesot-ngesot, tapi di jalan yang agak datar tentu tak bisa dan kami harus berjalan biasa sambil menahan alas kaki tidak tergelincir. Memang tidak membuat lapar tapi cukup menguras tenaga. Pundak terasa lebih sakit menahan beban tenda-nesting-sleeping bag dalam carrier saat turun daripada saat naik ternyata, ditambah engsel lutut yang mulai bergetar, di-ping oleh entah siapa saja 😀

Sampai di jalan paving, kami memutuskan duduk sebentar, beristirahat. Ternyata jadi lama karena setelah itu mas gondreng lewat dan kemudian nyangkruk di tepi paving bersama kami, kalau 1,5jam aja sih ada tuh.. Pertama mbahas kelompok pendaki cedera yang digendong mas ursa mayor tadi. Jadi mas ursa mayor dan mas gondreng ini ternyata ssenior-junior dari kelompok PA di Tumpang, biasa naik-turun Mahameru. Pantas saja mas Ursa Mayor kuat gendong mbak-mbak itu sambil turun. Mas Gondreng sendiri ke Buthak sebenarnya baru turun dari Semeru kemarin siang lalu buru-buru menyusul temannya,  jadi hanya mengawal sekelompok pendaki pemula, yang ternyata kami jumpai bawa-bawa plang Buthak turun dari singgasananya itu, dan di turunan tajam tadi kami sarankan untuk ikut ngesot berjamaah saja daripada terpeleset saat turun. Pengawalan tidak sia-sia, buktinya para pendaki pemula tersebut aman semua, tanpa ada yang cedera. Tak berapa lama, Mas Ursa Mayor dan teman-teman seniornya lewat, lhoo… Memang sepanjang perjalanan turun tadi aku kepikiran juga sih, sampai di mana yang nggendong itu kuat? Apa ngga malah nanti yang nolong yang jadi tepar? Ternyata jawabannya kami dapatkan. Sampai pos 5. Sudah pada tak mampu lagi mereka, daripada sama-sama sakitnya, mereka turun lebih dulu untuk meminta bantuan teman-teman PA dan SAR di Malang. Mereka sudah meninggalkan 4 bungkus mie instan dari 6 yang tersisa dari logistic mereka, dan sebuah tabung gas serta kompornya, serta memberi training singkat cara memakai kompor tersebut.

Tiba di pos perijinan sudah gelap waktu itu, sekitar pukul setengah 7. Kelompok mas Ursa mayor sudah di situ dan sedang briefing langkah-langkah evakuasi sang cedera. Ada yang pinjam motor untuk belanja logistic untuk support tambahan kelompok yang cedera di atas lalu ketika ada pendaki yang naik dititipkan untuk dibawa, beserta titipan pesan untuk membawa air lebih semampunya untuk ditinggalkan sebagian bagi kelompok yang cedera tersebut.

Banyak pelajaran berharga dari perjalanan emalam ini ternyata:

  1. Jangan pergi naik gunung hanya cewek berdua di malam hari, bahaya.
  2. Jangan meremehkan gunung apa pun, pakailah perlengkapan yang safety dan bawa obat-obatan, minimal sandal gunung untuk alas kaki, yang tidak licin. Aku sempat mendengar kalimat ini saat turun: Naik Panderman itu sudah biasa, naik Buthak itu gengsinya lebih tinggi à hellooo.. naik gunung bukan soal gaya-gayaan, yaa.. ini soal passion.
  3. Bawa logistic H+1 (ini yang selalu diajarkan di komunitas Rinjaniholic, sih), ya untuk keadaan gawat begini.
  4. Jangan berlari saat turun kalau kita belum terbiasa, lebih baik lambat asal selamat, daripada keseleo lalu merepotkan orang banyak seperti ini.
  5. Jalinlah komunikasi yang baik dengan pendaki lain. Bantuan dan kawan akan selalu datang dengan sendirinya 🙂

Ini resensi singkat timeline Pendakian Buthak 2868mdpl:

  1. Pos perijinan – perbatasan hutan : 45 – 60 menit
  2. Perbatasan hutan – simpang 4: 45 menit
  3. Simpang 4 – simpang pet bocor: 30 menit (titik air sebelum savanna)
  4. Pet bocor – tanah lapang sebelum tanjakan: 30 menit
  5. Tanjakan – tanah lapang setelah tanjakan : 45 – 60 menit
  6. Tanah lapang – pos 5 (pertemuan dengan jalur dari Dau) : 45 – 60 menit
  7. Pos 5 – tepi jurang : 2,5 jam
  8. Susur tepi jurang – savanna : 30 menit (sumber air sendang)
  9. Savanna – puncak: 20 – 50 menit

Semoga bermanfaat 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s