Destinasi Jalan-Jalan Sekitar Kersik Tuo

  1. Danau Gunung 7

Beruntung juga perjalanan ke Gunung Kerinci tertunda karena kekurangan porter yang bisa membantu saat lebaran, karena beberapa dari anggota rombongan kami belum pernah naik gunung bersama sehingga belum tau kecepatan dan karakter jalan dalam kelompok kami.

 gunung 7 pick up
di atas pickup di depan gerbang pengamatan Danau Gunung 7

Perjalanan kami ke Danau Gunung Tujuh dari basecamp Kersik Tuo diantar dengan menggunakan pick up. Arahnya berlawanan dengan arah ke Pintu RImba Kerinci, lewat pasar tradisional Kersik Tuo, lalu belok kanan saat mencapai sebuah pasar yang entah apa namanya. Tenang, papan petunjuk jalan jelas mencantumkan arah menuju ke sana kok 😉 Kami berhenti sebentar dua bentar di sana karena seorang teman membeli kopi hitam dan 2 mas-mas dari Jakarta membeli ayam untuk makan malam di sana, mereka berencana camping di tepi Danau Gunung Tujuh.

karakter medan danau gunung 7

Perjalanan naik sekitar 2-3 jam dengan medan seperti gunung Cikuray, banyak akar pohon –namun tak sedahsyat Cikuray tentunya- dan vegetasi hutan hujan tropis nan rindang membuat beberapa yang belum terbiasa terengah-engah, meski tetap menyenangkan berjalan bersama. Disertai 2 rombongan lain di antara rombongan kami: 2 orang mas-mas dari Jakarta –yang tadi membeli ayam di pasar- yang akan naik ke Gunung Kerinci juga esok – membawa 2 carrier besar- dan 2 orang bule tanpa barang bawaan yang amazing jangkauan langkahnya –sepertinya hanya Kefas yang bisa menyamai jangkauan langkah mereka – membuat kami tetap bersemangat walau berpeluh dan lapar belum makan siang.

pohon rebah di ujung tanjakan

Di ujung tanjakan, sebatang pohon rebah – istilah orang Jambi untuk pohon tumbang – menghalangi jalan, mungkin juga sebagai penanda bahwa setelah pohon tersebut, jalanan menurun dan di ujung jalan ada turunan setinggi 1,5 meter, yang jika ditempuh dari sisi kanan harus berjalan mundur dan bergelayut pada akar pohon sedangkan dari sisi kiri lebih manusiawi meskipun juga tetap harus berhati-hati karena di ujung jalan sudah menunggu tepian danau.

Sampai di Danau Gunung Tujuh, karena dikelilingi 7 gunung di sekitarnya – yang tak ada juga penduduk local yang tau nama ketujuh gunung tersebut – , semua rasa lelah sirna sudah. Rasanya ingin sekali menceburkan diri ke dalam air danau yang jernih namun begitu menyentuh airnya, brrr.. batall.. Makan siang di tepi danau nampaknya lebih menjanjikan, ditemani tiupan angin sepoi dan vitamin A hijau sekitar, serta secangkir kopi atau coklat hangat, hmm…

Danau Gunung Tujuh, bersama 2 bule berkaki panjang 😀

Menurut cerita bang Oss, ada bapak tua, yang setengah badannya lumpuh, memberikan jasa penyeberangan perahu melintas Danau ini menuju ke Pasir Putih. Salut atas semangat hidupnya yang dengan sebelah tangan berusaha mencari nafkah dengan sepanjang waktu mendayung perahu menggunakan sisi tangan yang masih berfungsi, hanya sebelah tangan. Siang ini, perahu itu tak Nampak, hanya sisi lain danau dengan penanda bendera yang Nampak; itu tempat bapak tua seharusnya duduk menunggu penumpang dengan perahunya. Mungkin bapak tua tersebut sedang pulang kampung, malam ini kan sudah malam takbiran. Salam untuk keluarga di rumah ya, Pak J

tepian danau gunung 7 yang pw untuk nongkrong

Beberapa pohon rebah dan batu besar di tepi danau menjadi tempat pw untuk menikmati indahnya danau, tentu saja, kalau insiden kecil itu tak terjadi; saat turun dari batu besar tiba-tiba kakiku sudah terperosok masuk ke antara celah-celah batu besar dan air. Hasilnya, nyut-nyut di tulang kering, dan ternyata benjolan sebesar setengah telur ayam Nampak hijau di sana. Kali ini cek obat-obatan  dalam P3K tak bisa dilakukan karena tak ada yang membawa, tak ada juga yang menyangka akan ada kecelakaan macam ini, hahaha.. Maka baiklah aku segera berangkat pulang lebih dahulu saja, karena kaki yang demikian nampaknya tak akan bisa diajak berjalan cepat. Beruntung mba Tio bersedia menemani, yang ternyata juga karena rasa otot lutut kakinya sudah mulai tertarik dan nyeri, dan tak ada obat atau bebat juga.

Alhasil, perjalanan 15menit naik menuju pohon rebah di persimpangan terasa lama dan jauh, padahal seharusnya bisa lebih cepat. Menahan nyut-nyut pada benjolan di tulang kering ternyata mempengaruhi kecepatan jalan, fiuhh..tak enak rasanya menghambat rombongan di belakang yang tiba-tiba saja sudah berada tepat di belakang kami. Maka, sambil berdoa, aku minta maaf pada kaki yang kurang kujaga baik ini, berharap dia mau memaafkanku sehingga bisa bertahan hingga sampai di tempat penjemputan pick up.

Syukur sekali, setelah permintaan maafku, sang kaki menjadi sangat berbaik hati mau berjalan cepat. Perjalanan turun yang menyenangkan bersama music yang seringkali roaming dengan music di belakang, serta perbincangan ringan seputar baper. Wah, ini rupanya yang membuat anak-anak polos tak boleh mbolang bersama kami tanpa pendampingan orang tua. Kefas masih polos kah setelah perjalanan ini? Hahaha.. Tiba-tiba saja kami sudah bertemu dengan Bu Farida, Pak Hanafi, dan di cabang jalan setapak yang lain: Stefani dan mas Sugi, lhoo.. Usai melewati jalan setapak memotong aliran sungai kecil, kami keluar dari hutan Gunung Tujuh, taraaa.. dan masuk ladang penduduk beberapa petak, lalu tiba di gerbang pos pemantauan. Tepat waktu itu pula pick up Mas Heru sudah tiba menjemput kami, menjelang waktu berbuka puasa. Jalan turun ke pos perijinan berupa kerikil kasar –seperti kerikil  yang dipakai untuk alas jalan aspal – dengan sungai kecil mengalir di sisi kiri-kanan jalan. Perjalanan naik tadi sangat terbantu dengan hantaran pick up ini, kalau tidak, mungkin kami sudah kepayahan dahulu melewati jalanan ini, sekitar 20 menit perjalanan dengan mobil.

Pukul 17.30 di sana masih terang benderang sementara pick up sudah melaju berkejaran dengan waktu karena takut tak mampu memburu saat berbuka. Teman-teman yang duduk di pembatas tepian pick up, termasuk aku, mulai kedinginan namun tak mampu bersembunyi dari terpaan angin dingin sore itu. Permintaan berhenti beli es buah dan cari apotek pun lewat sudah. Sampai di basecamp, kami baru tau kalau penjual es buah pun sudah tutup dan apotek tak ada lagi yang buka selama hari-hari sekitar lebaran, owwh… Jadi catatannya, sediakan juga Thrombopop dan kinesiotab dalam perlengkapan P3K, mnimal P3K pribadi. Lah kalau sudah terlanjur seperti kami gimana? Ya malamnya nongkron di warung samping basecamp buat beli bandrek & es batu untuk kompres 😀

  1. Air Terjun Telun Berasap

Air terjun Telun Berasap terletak di Desa Telun Berasap, kecamatan Kayu Aro, kabupaten Kerinci. Kalau dari basecamp Kersik Tuo, arahnya sama dengan kalau akan ke Danau Gunung Tujuh, tetapi dari pertigaan pasar kita pilih jalan lurus saja.

Sebenarnya jadwal kami hari itu adalah ke Danau Kaco, namun beberapa hal menjadi pertimbangan sehingga tak jadi kami ke sana. Dan ide main ke air terjun dilontarkan oleh Bang Oss, yang membuat mba Tio, yang sudah berniat stay di basecamp hari itu, tertarik untuk bangkit dan bergabung, hahahaa…

Jalanan ke sana melewati beberapa ladang jagung, kebun jeruk yang pernah Berjaya di daerah ini, dan koperasi yang gagal beroperasi karena kalah oleh para calo. Sebelum berbelok kanan masuk loket air terjun, kami berhenti membeli gorengan dan jagung goreng di warung-warung yang berjajar ramai di sana. Jadi ini khas daerah ini, jagung manis utuh yang direbus lalu digoreng dengan dilumuri tepung; bukan dadar jagung lho ya, karena ini jagung masih dalam keadaan utuh. Jangan pula membayangkan burung kakatua ketika memakannya nanti 😀

pondok foto air terjun

Tiket masuk per orang Rp. 10.000, lebih mahal daripada tiket yang ditetapkan oleh Pemerintah Daerah –Rp. 4000- karena kata petugas di loket, objek wisata ini sudah dikelola sendiri oleh desa setempat.

Menuruni beberapa puluh anak tangga dari semen selama 10 menit, kami sempat berhenti di beberapa tepi yang menjorok ke arah air terjun dan melihat bagaimana asal kata “berasap” itu muncul. Deras memang dan membuat sekitar deburan air tampak berkabut dan basah. Sumber utama aliran air ini adalah mata air di Gunung Tujuh, dingin air yang memercik di sekitar pun sedingin air di Danau Gunung Tujuh kemarin.

foto dari pondok dekat air terjun, ada pelangi di sisi bawah

Di akhir anak tangga, sebuah gazebo beratap plastic putih –yang tampak sudah robek-robek- memberikan tempat berteduh dari percikan air, dengan pengunjung tetap bisa menyaksikan indahnya pelangi di samping deburan airnya. Pelangi ini tampak sepanjang ada cahaya matahari, hasil dispersi dari cahaya matahari yang diuraikan oleh titik-titik air sepanjang aliran air yang jatuh. Di balik air yang jatuh ini, ada gua sebenarnya, tapi terlalu berbahaya mencoba masuk ke sana tentu saja, jadi tak perlu mencobanya 😀

Berjalan turun sedikit, ada gazebo yang letaknya agak menjauhi air terjun besar tersebut, beratap seng, yang cukup nyaman untuk nongkrong karena bebas dari percikan air terjun besar –yang lama-lama bikin basah juga. Dari sini, jika kita melihat ke kiri, kita akan mendapati sebuah air terjun lain yang lebih kecil dan letaknya lebih rendah, menuju aliran sungai yang sama. Vegetasi sepanjang sungai berupa pakis-pakisan dan tumbuhan yang berasa “dingin” lainnya.

Kami bertemu dengan mas-mas ayam lagi di sini, teman perjalanan kami ke Danau Gunung Tujuh kemarin, masih dengan 2 carrier besarnya; dan “tetangga masa gitu” yang ternyata ngikut di belakang kami, hahahaa…

  1. Rawa Bento

Tak langsung kembali ke basecamp, bang Oss membawa kami berbelok ke kiri setelah jalan utama melewati kebun jeruk. Jalan kampong yang cukup lebar, cukup untuk 2 mobil. Aku sedang menebak sesuatu ketika akhirnya kami sampai di ujung jalan: sungai di tengah sawah, dengan jembatan gantung menghubungkan sisi kampung sini dengan area sawah di seberang sungai. Jangan-jangan ini tempat camping cantik yang pernah diceritakan bang Oss, dan ternyata begitulah..taraa..

Sayang, gerimis waktu kami tiba di sana. Hanya ada 1 payung Bu Farida dan 1 payung bang Oss untuk kami ber-16. Yah.. susah kan. Kami tidak menyeberang jembatan, hanya sesi pemotretan sana sini saja, dengan jasa peminjaman paying 😀

Aku jadi ingat kata teman-teman, “sebenarnya, hal yang paling menghibur itu cukup berupa tempat yang bagus untuk foto-foto”, dan tempat ini sudah memenuhi kriteria tersebut, hahay.. Berasa privat milik kelompok kami saja juga karena rombongan lain tak kenal tempat ini, apalagi “tetangga masa gitu” 😀

  1. Tugu Macan dan Kebun Teh Kayu Aro
kebun teh Kayu Aro

Pulang dari air terjun dan Rawa Bento, kami mampir basecamp menjemput Pak Beni. Kami akan melakukan sesi pemotretan di Tugu Macan, ikon legendaris Kersik Tuo. Tak jauh dari basecamp ternyata, hanya 5 menit perjalanan dengan mobil atau 15 menit perjalanan dengan jalan kaki. Sayang, ternyata di sana “tetangga masa gitu” sedang sesi pemotretan. Kami memilih mengalah menunggu mereka selesai. Melipir dulu ke kebun teh, mengambil arah belokan dari samping Tugu Macan.

Kebun Teh Kayu Aro membentang luas, seluas mata memandang hanya hijau hamparan pohon perdu teh di kaki megah Gunung Kerinci. Menurut masyarakat sekitar, kebun teh ini adalah kebun the terluas di Asia Tenggara, dan memang benar. Kayu Aro sendiri adalah nama kecamatan di sini. Perusahaan pengelola teh  di kecamatan ini milik pemerintah daerah. Hasil petikan pertamanya tidak diedarkan dalam negeri sendiri, khusus dipisahkan untuk diekspor ke Jepang, China, dan manca Negara lainnya. Baru hasil petikan atau kw ke-5 dst nya yang boleh diedarkan di dalam negeri sendiri. Sedih ya, tidak menjadi pemilik di kebun sendiri 😦

tugu macan berpagar

Paling tidak, sedikit kebahagiaan kita adalah boleh berhenti di sisi mana pun dari kebun the untuk sesi pemotretan, main petak umpet, atau sekedar jalan-jalan sambil menghirup segar udara kaki gunung. Cukup menyenangkan juga kok buat orang-orang macam kita (emang ada orang macam apa aja? :P), cek foto-foto kami ya..

Puas main di kebun the, dank arena langit makin gelap seakan akan turun hujan deras, kami kembali ke mobil dan menilik Tugu Macan lagi. Syukurulah “tetangga masa gitu” sudah pindah tempat entah ke mana hahaha… Ganti kami yang sesi pemotretan ini.

Tugu Macan adalah ikon desa Kersik Tuo, berupa patung Harimau Sumatra dalam pose siap menerkam dan tulisan TUGU MACAN di bawahnya. Sekarang, ikon kebanggan ini diberi pagar besi sekelilingnya, dan untuk dapat masuk ke dalam area pagar, kita harus memanggil juru kunci dan membayar semacam tiket “selfie”. Sayangnya, tak setiap saat juga juru kunci stand by on location. Saat kami ke sana, juru kunci entah di mana, maka seadanya saja kami berfoto di sisi luar pagar.

Puas berfoto ria, kami tergoda untuk mampir warung tepat di seberang Tugu Macan: Bakso, Mie Ayam, dan pecek lele. Baksooo… segera penuh kursi dalam warung. Pemilik warung ternyata orang Jawa, Wonogiri tepatnya. Kita bisa memesan makanan dalam bahasa Jawa, baik ngoko maupun krama, kok. Namun, jangan kaget saat giliran membayar. Rp. 17.000 untuk seporsi Bakso, berisi 1 buah bakso besar dan 2 buah bakso kecil; Rp. 22.000 untuk bakso + es teh; Rp. 35.000 untuk mie ayam-bakso. Sumatra ini, man.. lokasi strategis pula, di depan icon desa dan icon Taman Nasional Gunung Kerinci Seblat nan tersohor itu, ahaha..

  1. Danau Kaco

Nah.. akan ku ceritakan alasan kami tak jadi ke Danau Kaco saat itu.

Danau Kaco dalam bahasa Indonesia Danau Kaca, karena airnya sangat jernih seperti kaca. Bagi para photo hunter dan igers, tempat macam ini pasti sangat menarik.

Tetangga kami di basecamp, sekelompok traveler elite asal Jakarta, ke Danau Kaco saat kami bermain ke Danau Gunung Tujuh hari itu. Mereka berangkat pagi, dan hingga tengah malam belum juga kembali ke basecamp. Dihitung-hitung dari rencana awal kami, memang perjalanan ke sana membutuhkan waktu sekitar 3 jam, tanpa macet. PP 6 jam, plus waktu untuk sesi pemotretan paling minim 1,5jam. Kami masih menunggu mobil hingga pukul 13.00, hampir tak masuk akal bisa kembali sebelum pukul 20.00, padahal mala mini kami harus tidur cepat dan packing ulang sebelum tidur karena besok pukul 4.00 kami sudah harus memulai perjalanan ke Gunung Kerinci, tujuan utama kami datang ke sini. Maka, kami putuskan mengubur impian main air dan sesi pemotretan di sana, dengan berat hati dan memaksa ikhlas, karena sebenarnya saying sekali sudah jauh-jauh ke Sumatra dengan biaya yang tidak sedikit dan waktu tempuh yang lama lalu tak jadi ke tempat yang sejak awal sudah kami impi-impikan dalam setiap chat di grup.

Jadi benar-benar ikhlas ketika esoknya kami mendengar info bahwa sebenarnya Danau Kaco tak sebesar yang kami bayangkan, hanya seperti kolam kecil. Baiklah.. ikhlas sudah. Aku sarankan teman-teman untuk mengunjungi Kolam Rambut Monte saja, di belakang Candi Gambar Wetan, KEcamatan Gambar Wetan, Blitar. Jernih sekali airnya, hanya saja tak boleh dimasukin karena ada pusaran mata air di bawah dan sekelompok ikan hiu kecil yang hidup di dalamnya.

  1. Aroma Pecco

Jemputan travel ke Sungai Penuh pagi ini terlambat hingga waktu tak lagi bisa dikatakan pagi, bahkan siang, karena telah menjadi sore saat akhirnya L300 yang cukup retro –kata keren untuk tua- datang dari Sungai Penuh. Beritanya, macet di jalan, termasuk di daerah Aroma Pecco, dalam perjalanan menuju ke basecamp.

Baru dengar nama itu. Itu nama objek wisata baru di tengah Kecamatan Kayu Aro, kata ibu di basecamp, semacam taman hiburan gitulah.. Aku berusaha memperhatikan kerumunan kendaraan dan orang di sekitar papan bertuliskan Aroma Pecco di sisi kanan jalan, di antara luas hamparan kebun the, dalam perjalanan kami ke Sungai Penuh sore itu. Hanya tertangkap sepotong oleh kamera HP ku. Pemandangan di dalam pun tak tampak dari jendela L300 yang melaju dalam kemacetan. Penasaran, aku bertanya kepada seorang teman, dan inilah penjelasannya.

Sudah ada sejak beberapa waktu lalu sebenarnya, berupa semacam kebun binatang tapi terbatas saja satwa yang ada di sana. Mungkin semacam kebun bibit bagi orang Surabaya, hanya saja tidak dilakukan pembibitan tanaman di sana. Entah kalau ada pembibitan pohon teh ya, sebab setelah papan nama pertama tersebut aku melihat papan nama seperti itu lagi di depan semacam rumah dinas di sisi kanan jalan 😀 Pada hari efektif pun pengunjung tak dipungut biaya masuk, hanya saat libur tanggal merah saja ada pungutan tiket masuk, masih menurut info teman tersebut. Terima kasih infonya, teman J

  1. Danau Kerinci

Danau Kerinci sebenarnya sangat mudah dijangkau, dalam perjalanan berangkat dari Jambi menuju Kersik Tuo saja kami telah melewatinya di sisi kiri jalan raya, sayang tak terlihat jelas karena saat kami lewat hari sudah malam, sekitar pukul 22.00. Paling dekat dijangkau dari Sungai Penuh, maka dalam itinerary awal kami cantumkan dari penginapan di Sungai Penuh, tepaatnya 16 km di selatan Sungai penuh.

Danau Kerinci, menurut infonya, adalah danau terbesar di Kabupaten Kerinci. Tingginya 783 mdpl, luas sekitar 5000 meter persegi, dan terbentuk dari peristiwa vulkanik dengan kedalaman 16m. Untuk fasilitas yang ditawarkan di sekitar danau, rasanya sih standard tempat wisata pantai, seperti warung-warung makan.

  1. Pusat oleh-oleh, perlengkapan gunung, dll

Pusat oleh-oleh terdekat ada di samping warung bakso seberang Tugu Macan. Paling lengkap menurut beritanya. Namun kalau toh ternyata took tersebut tutup, seperti saat kami ke sana, kawan-kawan dapat berjalan lurus agak jauh sekitar 20 menit kea rah Sungai Penuh. Toko ini tak besar, hanya sekitar 3 x3 m ukurannya. Kaos-kaos lengan pendek dan panjang dengan berbagai tulisan Kerinci ada di sana, harganya kisaran 70.000-110.000. Ada juga the celup, the tubruk, gantungan kunci, tas bamboo, dan syal tenun Lombok dengan tulisan Kerinci. Kalau perlengkapan gunung ada yang kurang, toko ini juga menyediakan, kok. Ada tabung gas seharga 22.000, jaket, celana lapangan, kerpus, dll yang bermerk outdoor gear.

Kalau mau yang murah meriah, pasar Kersik Tuo bisa jadi pilihan. Di dalam pasar ada banyak penjual pakaian, harga bisa ditawar dan bisa deal dalam harga yang wajar, kok. Di area depan ada penjual baju hangat, kaos tangan, syal, kaos kaki, dan kerpus. Kaca mata hitam juga ada bagi yang mau bergaya 😀

Ohya, makanan murah dengan harga normal seperti di Jawa bisa kita jumpai di pasar. Jangan khawatir bakalan kena pukul bayar mahal kalau di area ini.

Mau copy file-file foto ke flash disk? Ada juga kok toko yang menjual accessories dan peripheral computer semacam itu. Ada 2 toko, dalam arah pulang dari Tugu Macan ke basecamp.

  1. Angkot

Tidak ada travel ke Sungai Penuh? Tinggal berdiri saja di depan basecamp, maka angkutan pedesaan warna putih akan lewat di depan kita. Arahnya ke Sungai Penuh, dan terminal akhir juga di sana. Dari Sungai Penuh, banyak pilihan travel ke Jambi. Tariff travel sekarang Rp. 230.000.

Jadi, apa lagi yang dikhawatirkan untuk jalan-jalan di sekitar Kersik Tuo? Cuzz dehh.. ^-^

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s