Pendakian Gunung Anjasmoro via Wonosalam Jombang

Destinasi nggunung kali ini adalah Gunung Anjasmoro. Meleset jauh Dari rencana awal Sebenarnya 😁

Awalnya 10-12 des Aku targetkan untuk ke Gunung Prau, camping ceria sambil menikmati daisy dan verbera di savananya. Dipikir lagi kok sayang libur 3hari 2malam cuma ndek-ndekan sampe Prau, yang notabene perjalanan naik cuma 2jam Dari pos perijinan.

Baiklah kemudian aku buka ajakan trip ke:

1. Gunung Prau via Kalilembu, jalur yang masih jarang dilalui pendaki kekinian (yang banyak via Patak Banteng)

2. Gunung Merbabu via Suwanting, yang jelas menggiurkan savana hijaunya dan Sumber air ada di pos 3, juga perjalanan naik 8 jam yang worth it untuk libur panjang

3. Gunung Prau & Gunung Merbabu (nah yang ini semacam kebut gunung kayaknya 😂)

Calon peserta pada galau. Pengikutnya tersebar pada masing-masing pilihan dan tak juga mengerucut.

Tak terasa makin mendekati hari H, Aku mulai lobby sana-sini. Infonya sih Merbabu badai di Sekitar puncak. Aku cek ricek, ya memang kalau bulan-bulan Desember, tak hanya Merbabu, tapi semua gunung, terutama yang jalurnya lewat savana, rawan badai. Ouuu…

Ditambah lagi, H-7 ada berita puting beliung di Salatiga. Oh my…

Jadi ciut nyaliku, Apalagi calon peserta masih pada galau ternyata.

 

Bbm dengan seorang teman selebgram, dia nyeletuk Gunung Anjasmoro. Asing bagiku. Dia tak memberi sedikit pun clue, Kecuali lewat Jombang. Hellooo… Jombang itu luas lho.. Yang sebelah mana ya? Dan karena sang teman ini tiba-tiba hilang ditelan entah apa, Aku tertinggal sendirian di dunia nyata 😂

Gugling lahh.. Dan voilaa.. “Sing penting yakin”, kata seorang teman yang ternyata pada last day motornya masuk rumah sakit dan tak bisa ke mana-mana 😁

 

Yakinlah dengan 4 orang teman ke sana. Naik bus? Yap, meeting point si Bungurasih pukul 7.00 tgl. 11 Des. Tapi karena ternyata jumlah motor banyak, di last minutes peserta bertambah secara amazing dengan metode culik-menculik 😁, sebagian naik motor dan sisanya baru naik bus lanjut ojek.

Track nya begini:

1. Bungurasih – Mojoagung : 8000

2. Mojoagung – Pasar Wonosalam : by angkot 15.000. Tapi ingat, angkot ke Pasar Wonosalam hanya sampai Pukul 10.00, di atas itu kudu ngojek. Tarifnya tawar-menawar. Waktu itu kami deal 45.000 cenglu.

3. Dari pasar Wonosalam, masih Sekitar 5 km ke Desa Carangwulung . Tujuannya Masjid Jabal Nur. Nahh.. Ojek di atas pukul 12.00 sudah tidak ada, mereka pada turun ke kebun, mengerjakan kebun masing-masing, hahaha..

Jadilah kami cenglu motoran semua.

Dari pasar Wonosalam ambil arah kiri jalanan turun, sampai pertigaan ikut ke kanan yang tikungan tajam.

Sebenarnya, kalau Dari jalan Utama Dari Bareng atau Mojoagung, tak perlu ambil arah Pasar Wonosalam, bisa langsung ambil arah WTC.

Sampai Desa Carangwulung , perhatikan petunjuk arah. Dari pertigaan Kampung Jawi, ambil arah kanan masuk Kampung Jawi (kalau lurus Akan kebablas sampai Plumbangan. Di depan pertigaan Plumbangan memang ada Masjid besar juga, tapi namanya At Taqwa, bukan Jabal Nur). Ikuti jalur aspal yang tinggal batu-batu sampai si pertigaan ambil arah ke kanan. Yap, kita ke Dusun Segunung. Pertigaan kecil ke kanan lagi, lalu Anda Akan bertemu masjid di atas jurang, tapi bukan masjid ini yng kita cari. Masjid ini namanya An Nisa.

Maju lagi Sekitar 200m dan voilaa.. Ada masjid yang lebih besar di kanan jalan dan benar namanya Jabal Nur. Di belakang masjid ini lah basecamp Cak Kancil.

Di basecamp, kita membayar perijinan @5000 dan parkir motor @10.000

 

Dari Masjid Jabal Nur, kami diantar seorang mas-mas penduduk lokal sampai di percabangan sebelum pertigaan ladang penduduk. Dimulai tracknya dari belakang rumah warga di seberang Masjid Jabal Nur.

Masuk di ladang-ladang penduduk dengan bunga-bunga rumput kecil warna kuning nan cantik di kiri kana, agak lumayan juga track-nya sudah mulai menanjak, ngos-ngosan lah.. hahaha.. Lalu lewat jalan batu di antara kandang-kandang kambing, lanjut masuk tegalan di belakang kandang kambing, baru kemudian masuk hamparan rumput. Hahh, haahh… Tarik nafas dulu lah.. 😀

 

setelah pos kancil

Setelah hamparan rumput, mlipir sepanjang tepian tegal sampai bertemu pertigaan dengan pemandangan bukit-bukit di seberang, seakan posisi kami sudah cukup tinggi, suara air menderu, dan papan petunjuk kecil: Pos Kancil. Woooo… baru pos 1, saudara, hahahaa… Ambil arah lurus, bukan ke kanan. Ke kanan mengarah ke sawah penduduk atau sumber air. Duluu..memang sumber air di situ, sebelum Uli Sigar Rusadi datang berkunjung. Setelah ia datang, sumber air tersebut ditutup dan dialirkan ke pemukiman warga, jadi para pendaki tak bisa lagi mengambil air di situ, hehehee…

Setelah melipir ladang, masuk rumpun bambu, mulailah tanjakan mbok-mbok, menikung, tajam, dan paha ketemu kepala, begitu kata orang, sampai kau berteriak, “mbok, mbokk”, hahahaa… itulah asal nama tanjakan mbok-mbok 😀

Lanjut, gann.. hahaha… sampai tanjakan terakhir ada sedikit tempat datar di bawah pohon yang di batangnya ada tulisan dengan ballpoint pada selembar kertas: “Pos 2, yang sabar ya”. Hahahaa… ini sepertinya pos 2 hoax dehh.. Tak apalah, kami berhenti sebentar karena hari sudah mulai gelap dan mulai mengeluarkan senter, headlamp, dan segala alat penerangan.

 

Ternyata, tanjakan belum habis, euyy… Dan langkah kami makin lambat, hutan lebat, dan gerimis mulai turun. Pendaki di gunung Anjasmoro ini tak banyak, dan kami hanya 2kali bertemu dengan pendaki lain yang turun, sepi.. Memang sih, pendakian Gunung Anjasmoro belum se-hitz gunung-gunung lain di Jawa Timur, jadi wajar kalau sepi.

Vegetasi mulai masuk hutan bambu, dan itu artinya sudah dekat dengan Pos 3, tapi apa benar, kan pos 2 saja belum kami lalui? Setengah jam lewat hutam bambu, kami sampai di dataran, dan ada 2 tenda berdiri di sana. Kami mencoba bertanya kepada penghuni tenda, dan jawaban mereka sangat melegakan: ini pos 3, dan arah kiri kami ke bawah 15 menit adalah sumber air. Waaa…. berarti tadi tulisan dengan ballpoint pada batang pohon besar itu beneran pos 2 😀

Dan kami putuskan saja nge-camp di pos 3 ini karena sudah ada temannya, hehehe.. Kalau cuma kelompok kami saja yang nge-camp di pos 3 ini ya agak seren, broo.. secara, di bawah bambu-bambu gitu.. lagipula, infonya di area pos 3 ini banyak pacet, jadi ya not recommended buat camp di sini. Tapi apa boleh buat, sudah gelap dan hujan juga. Sambil menunggu teman-teman di belakang yang masih jauh, kami beristirahat di pos 3 ini. Jadi total perjalanan kami dari masjid sampai pos 3 adalah 32,5 – 3 jam.

Kami dirikan 3 tenda di sini: 1 tenda isi 4 orang dan 2 tenda kecil isi max 3 orang. Ramailah camp kami dengan tetangga 2 tenda yang sudah berdiri lebih dulu.

 

Karena persediaan air menipis, beberapa teman ke sumber air untuk mengambil air dan ternyata jalan ke sana sangat licinnn.. Beberapa teman terpeleset, dan ada yang diikuti pacet, nempel di kaki maksudnya, hahahaa.. Tapi untunglah ternyata di area tenda kami berdiri tidak ada pacet yang berkeliaran, jadi amann..

 

Setelah makan malam, kami masuk tenda masing-masing dengan kecapaian dan tidur lelap, meskipun tentu tetap terbangun tiap beberapa waktu, hihihii..

 

Pagi, setelah masak untuk makan pagi, hunting rebung dengan berguru kepada bapak-bapak yang mencari rebung dari perkampungan, dan menyiapkan makan siang, kami berangkat muncak. 2 tenda tetangga kami sudah duluan muncak sih, dengan membawa semua barang mereka, woww..

Perjalanan muncak kami lewat hutan yang panjangg.. seperti nggak nyampe-nyampe 😀 Hampir 1 jam berjalan, dan setelah berpapasan dengan seorang anak yang ikut ayahnya naikk gunung ini (wow), kami mendengar suara musik-musik berisik. Hahaa.. tanda peradaban selain kami, asikk.. Mereka ternyata kelompok Kopi Alas yang sedang melakukan operasi penghijauan, menanam bibit kemiri dan kopi di sepanjang jalan menuju pos 4. Wah, kerennn! Kelompok ini anggotanya banyak sekali, sampai area camp di dataran pos 4 tidak cukup dan beberapa tenda harus dibentangkan di antara pohon-pohon di sisi kiri-kanan jalur. Untung kami tidak jadi nge-camp di pos 4, hahahaa…

Lah, setelah pos 4, yang sudah di puncak ini, lalu puncaknya di mana? Kami tak melihat jalan menuju arah atas lagi, malah jalan mengarah turun di belakang salah satu tenda, menuju bukit sebelah. “Lah ya itu puncaknya, 30 menit kok naiknya,” celetuk para pendaki di pos 4. Ahahahaa…bercanda, loe? Jadi kita pindah punggungan ini? Yapp.. jadi jalan turun dulu 15 menit, baru naik, naik, dan naik terus sampai entah di mana 😀 Jangan bangga sudah pernah ke Semeru kalau belum pernah ke 2282mdpl dehh.. hahahaa..

Sekitar 45 menit berjalan, teman di depan mulai putus asa karena jalan di depan seperti ditutup jalurnya oleh sebatang pohon yang tumbang. Aku mengingat bahwa dalam catatan perjalanan yang ku baca dari internet, jalan menuju puncak, pelawangannya ditandai dengan dua buah pohon besar di sisi kiri-kanan jalur sebagai tanda bahwa puncak sudah dekat. Nah berarti kami harus bertemu 2 pohon besar itu dulu. Hmm.. ternyata jalur tidak tertutup, hanya melipir kanan, lalu lanjut lagii.. dan ketemu 2 pohon penanda pelawangan puncak Anjasmoro.

Dari pelawangan sudah dekat puncak, katanyaaaa.. seberapa dekat? hahahaa.. Yaahh.. paling cepat 30 menit lah, kami harus melipir sisi kanan puncak punggungan ini, baru naik lagi sedikit, dan baru bertemu puncak yang sesungguhnya: 2282 mdpl, ditandai dengan sebatang tonggak semen. Namun tempat untuk berfoto dan plakat diletakkan agak ke sana lagi, di tempat yang sedikit lebih lapang.

Kalau diteruskan sedikit lagi ke arah sana, akan ditemukan petilasan berupa batu-batu piring yang disusun berundak membentuk ceruk gua kecil, hanya bisa dimasuki seorang manusia saja, dan di atasnya batu piring pipih yang lebar, untuk pemujaan. Ada sisa-sisa dupa juga.

img_20161212_122149

Puncak Gunung Anjasmoro via Wonosalam 2282 mdpl

Lapar pastinya kalau sudah sampai sini. 30 menit menuju puncak dari pos 4? hoax tuhh… 1jam baru bener. Kalau tutunnya 30 menit sampai pos 4 baru bener, hahahaa…

Di kiri-kanan puncak, puncak-puncak lain yang lebih rendah nampak, juga puncak tusuk gigi yang jauh lebih tinggi di ujung sana. Mau ke sana? nggak deh, makasii 😀 Tapi kata penduduk di masjid, tahun depan akan dibuka jalur menuju puncak tusuk gigi itu, hihihiii.. rada ngeri sih, sepertinya harus pakai repelling 😀

Okay, inilah timeline perjalanan kami:

    • Masjid Jabal Nur – Pos kancil : 1 jam
    • Pos Kancil – Pos 2:                     45 menit
    • Pos 2 – Pos 3:                              1 jam
    • Pos 3 – Pos 4:                              1jam 15menit
    • Pos 4 – Puncak:                          1 jam (turun 30 menit)

Oh ya, kalau mau coba naik dari perijinan Cangar, dari pabrik Jamur, hanya 2,5 jam perjalanan, tapi tidak sampai di puncak 2282 mdpl ini, hanya sampai di puncak 2252 mdpl, sisi lain dari Gunung Anjasmoro nampaknya 🙂

Happy hiking ^-^

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s