Pendakian Gunung Pundak via Puthuk Siwur

pundak-peta-kontur-red

Ini peta kontur Gunung Pundak via Puthuk Siwur.

Peta kontur ke-3 dalam perjalanan nggunung ku:

~ pertama : peta kontur sebesar peta dunia hasil hunting pak guru @yohanessandikristyawan saat lintas jalur gunung wilis via a Roro Kuning tembus Lembah Romusha. Catpernya ada di sini: http://silvanarw.blogspot.co.id/2013/08/perjalanan-puncak-limas-lembah-romusha.html

~ kedua: peta kontur Gunung Arjuno-Welirang saat lapor di pos perijinan Tretes 2014 lalu

~ ketiga: peta kontur Gunung Pundak via Puthuk Siwur ini . . So, Kalau gunung pundak via pintu tahura sudah terlalu mainstream, Cobalah gunung pundak via puthuk siwur, Dijamin seru πŸŽ‰πŸŽ‰πŸ’ƒ

Seru adu mulut dengan oknum tahura Seru ngerasain jalur yang ga nyampe-nyampe

Seru bawa air Dari pos perijinan coz sepanjang jalur tak ada Sumber air

Dan seru karena bisa melihat Puthuk Siwur & Palawaran yang anti mainstream, belum hits, dan tak kalah menarik. . .

Tertarik?

Begini jalurnya dari Surabaya (kami motoran sih waktu itu):

img_20170122_133047

parkir motor pos perijinan Puthuk Siwur

  • Surabaya lewat Raya Gilang
  • masuk jalan arah Krian, tidak lewat bypass
  • belok kiri di seberang Klenteng merah setelah Pasar Krian
  • lanjut arah Mojosari
  • ambil arah Pacet, sampai bunderan Pacet ambil arah lurus ke Trawas
  • lurus terus ikut jalan, sampai bertemu Tugu Jamur di tengah jalan
  • ambil arah turun, lalu kanan ikuti jalan
  • lihat arah kanan, di kanan ada gerbang besar dengan tulisan “Jalan Air Panas”
  • ada gardu penjagaan Perhutani di tengah, silakan membayar tiket masuk
  • naik sekitar 300 m, lalu masuk ke parkiran di sisi kiri jalan
  • silakan mendaftar lalu membayar tiket masuk. Petugas di sana namanya Pak Fandi. Simaksi 10.000 / orang, Parkir motor 5.000 / motor .

 

Oh iya, jalur ini tidak melewati sumber air, jadi teman-teman lebih baik membawa air dari pos perijinan. Berbeda dengan jalur via Pintu Tahura, yang ada sumber air di Pos 3. Tapi, jalurnya jelas kok, ditandai dengan sign warna orange stabilo setiap ada percabangan.

Perjalanan dimulai dengan jalan berbatu lewat belakang warung Pak Fandi. Menanjak tipis-tipis melewati hutan pinus. Di tanah masih tampak guratan bekas roda motor, menandakan kalau jalur ini juga dilewati motor pada siang hari.

img-20170209-wa0008

panggung selfie

Sekitar setengah jam berjalan, kita sampai di Panggung Selfi, masih di tengah hutan pinus, tapi di sisi kiri dari jalan setapak tampak bebatuan besar, yang pada siang hari bisa terlihat pemandangan di bawah dari atas batu-batu tersebut.

Berjalan lagi sekitar 45 menit, kita sampai di Camp 1, juga masih di tengah hutan pinus.

camp 1

camp 1

Perjalanan berlanjut dengan vegetasi mulai masuk tumbuhan selain pinus, mulai diselingi ilalang tinggi juga, lalu kita sampai di Camp 2: Goa Bebek. Sampai saat perjalanan turun pun, kami masih tak menemukan di mana itu Gua dan di mana itu Bebek yang dimaksud, hahaha…

Pos 2: Goa Bebek

Lepas dari Gua Bebek, vegetasi mulai menjadi vegetasi hutan. Berjalan cukup jauh juga kali ini, menanjak juga, sekitar 1 jam, lalu kita akan bertemu dengan percabangan di antara savana kecil, yang jika ke kanan arah puncak Puthuk Siwur, ke kiri Palawaran, dan lurus ke Puncak Gunung Pundak. Kalau pernah naik Gunung Lawu via Candi Cetho, mungkin savana kecil ini bisa dibilang miniatur Bulak Peperangan, pos 5 πŸ™‚

Dari jalan lurus menuju Gunung Pundak, kita akan sedikit berjalan turun dahulu, memutari punggungan Pelawaran, lalu baru naik, naik, dan naik sekali, mengitari padang ilalang Gunung Pundak, baruuu.. setelah sekitar 2 jam bertemu dengan camping ground di Puncak Gunung Pundak. Fiuuu… lumayan juga.. Kami tiba di sana pukul 03.30 waktu itu, dan berangkat dari pos perijinan sekitar pukul 00.00

Puncak Puthuk Siwur

Puncak Puthuk Siwur

Seorang teman yang baru bergabung dengan kelompok gila kami sempat protes, “Katane jalan 2 jam, sil, kok kita dari tadi gak sampe-sampe, ya?” Hahahahaa… Gunung mah gitu, SOP nya bilang udah dekat puncak, padahal kan ya sama-sama gak tau berapa lama lagi, lah belum pernah ada juga dari kami yang ke sana πŸ˜€ Cuma sudah pernah baca beberapa catper aja di internet, hihihiii.. SIng penting yakin kan? :p

Oh ya, sempat ada keributan juga di puncak gunung pundak, seperti kalimat-kalimat awal yang aku tulis itu:
Jadi pagi-pagi sekitar pukul 6, ada orang yang mengaku dari Tahura, ditugaskan untuk melakukan pengecekan kepada tiap pendaki. Kami dimintai surat ijin dan karcis/tiket masuk.

img-20170209-wa0009

Form perijinan & tiket masuk

Tiket yang kami bawa dia nyatakan tiket tidak resmi, padahal jelas-jelas di tiket itu tertulis β€œtiket masuk pendakian puthuk siwur & gunung pundak”. Katanya tiket yang kami pegang itu hanya berlaku sampai puthuk siwur, tidak boleh sampai Gunung Pundak, tiekt yang kami bawa itu diterbutkan oleh perhutani padahal Gunung Pundak adalah wilayah Tahura. Lalu katanya kami lewat jalur illegal. Jalur illegal itu lebih jauh, curam, dan rawan tersambar petir karena dia pernah mengukur panas bumi di jalur yang kami lewati dan hasilnya panas buminya tinggi. Hellooo… kami dikira gak pernah sekolah kali ya? Atau sekolah tapi sepanjang pelajaran IPA tidur? Petir vs panas bumi hubungannya apa, ya? Kan petir itu loncatan electron, jadi carinya ya buat grounding, gak ada hubungan sama panas bumi kan? Intinya kami disuruh bayar lagi, per orang Rp. 10.000, tapi karena bukan sepenuhnya kesalahan kami, kami diberi keringanan bayar setengah dari jumlah total peserta.
Aku yang baru bangun tidur ngga bisa terima pembohongan macam ini, dan langsung protes. Dia terpancing emosi lalu berteriak membentakku, β€œOke, kalo situ keras, aku juga bisa kaku. Sekarang juga, bongkar tenda, turun!! Aku Erik, orang Tahura, catet!”

papan petunjuk arah di savana percabangan, di bawah Puthuk Siwur

papan petunjuk arah di savana percabangan, di bawah Puthuk Siwur

Dikira aku takut? Zzzz… hari gini main ancam. Yang sangat aku sesalkan, kelompok pendaki lain bukannya bersatu melawan orang yang kelihatannya nggak bener ini, tapi malah pamer karena mereka sempat salah jalur tapi sudah bayar lagi di atas. Hadehh.. Orang muda kok gak kritis gitu sih? Pendaki lagi, sayang banget gitu.
Aku jadi ingat quote ini:

Beri kan Aku 1000 orang Tua, niscaya Akan kucabut Semeru Dari akarnya, beri kan Aku 10 Pemuda, niscaya Akan kuguncangkan dunia ~ Bung Karno ~ .

Puncak Gunung Pundak dengan latar Puncak Gunung Welirang

Puncak Gunung Pundak dengan latar Puncak Gunung Welirang

Yap, kami 10 Pemuda, di puncak gunung pundak.

Bisa apa kami? Bisa membongkar ulah semena-mena oknum-oknum yang mengakui orang Tahura!

Diskusi dengan Pak Polisi Hutan dan para PIC di Pos Perijinan Puthuk Siwur

Diskusi dengan Pak Polisi Hutan dan para PIC di Pos Perijinan Puthuk Siwur

Sampai di pos perijinan Puthuk Siwur, kami complain kepada Pak Fandi. Beliau merasa tidak enak juga kepada kami. Beberapa kelompok yang lewat jalur serupa dan sudah turun sempat complain kepada pak Fandi, dan beliau mengembalikan uang tiket karena merasa tak enak. Tapi kami ngotot ingin tahu yang sebenarnya antara Perhutani dengan Tahura.
Akhirnya Pak Fandi memberitahu seorang Polisi Hutan dan Pak Kus, PIC di situ. Mereka datang ke Pos Perijinan dan menjelaskan kalau sebenarnya masalah antara Perhutani dan Tahura sudah selesai. Pendak iboleh lewat jalur mana saja dan semua resmi, karena pendaki tak mungkin bisa mencapai area Tahura kalau tidak melewati area perhutani, itu kalau mau hitung-hitungan – logis sekali – dan sudah selesai pembicaraan ini pada tingkat para pimpinan.
Erik, orang yang ngusir kami di puncak gunung tadi, ternyata hanya penduduk local yang dibayar secara freelance per bulan oleh pihak Tahura, bukan orang Tahura sendiri. Jadi dia oknum. Dia tidak berhak mengusir kami atau siapa pun, dan dia jelas tidak punya surat tugas untuk melakukan hal itu. Uang-uang yang dibayarkan kepadanya pasti hanya masuk ke kantong pribadi atau dia dan teman-teman berbaju hijaunya tadi.
Pak Polisi hutan meminta maaf atas hal yang terjadi pada para pendaki yang lewat jalur ini dan berjanji menyelesaikannya dengan pihak Tahura dan menindak oknum yang bersangkutan.

Terbukti? Iya dong. Seminggu setelah kami naik, Romo @ekowipr naik lewat jalur yg kami lalui bersama seorang penduduk Pacet. Tak ada lagi oknum Tahura yang malak para pendaki. So, jangan pernah takut apa pun selama Kita benar, right? .

Kami 10 Pemuda, dipertemukan oleh gunung:

~ Gunung Buthak: @vivianrezalia Mas @argadul .

~ Gunung Arjuna, Putuk Lesung: @mimiu.03 .

~Gunung Kelud via Tulungrejo: Mas @sin_stark .

~ Gunung Anjasmoro: Mas @wahyu_widi.p Mas @lukskul .

~ Gunung-gunung entah apa saja, yang dikunjungi Rinjaniholic : * om @subanstanis * miss @lya_adonara * @silvanarw .

And Nu comer: * @pita.nanna .

And here we are, for nature, truth, and justice for indonesia 😊

.

.

Kalau beberapa gunung saja bisa mempersatukan kami ber-10 untuk melakukan perubahan menuju arah yang benar dan baik, Apalagi kalau seluruh tanah dan air Indonesia ini Kita bisa menggoncang dunia πŸ’ͺ😊

. .

Hidup anti-mainstream πŸ’ͺπŸŽΆπŸ’ƒπŸ˜

.

. .

#gunung #gunungpundak #puthuksiwur #1429mdpl #mountains #instagunung #penjelajahgunung #jelajahgunung #jelajahindonesia #jelajahnusantara #pendaki #pendakiid #pendakiindonesia #instapendaki #explore #exploremojokerto #hiking #adventure #jalanjalan #escapadeqube #explorealamindonesia #indotravellers #mountnesia #traveller #claket #pacet #mojokerto #jawatimur #eastjava #indonesia

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s