Trekking Bukit Budug Asu atau Fox Hill

Budug Asu

Iya, memang nama tempat ini aneh.

Pertama tau tempat ini dari posting ig seorang teman yang ketemu di Puthuk Lesung beberapa waktu lalu, bagus banget. Ya 11 – 12 sama Puthuk Lesung sih, kerenn..

img-20170223-wa0000

Pendakian Gunung Arjuno sedang ditutup dari semua jalur pula. Jadi, apa salahnya melihat view indahnya Arjuno dari sisi lain? Yuk ahh..

Mengumpulkan massa dari teman-teman yang pernah ku temui di pendakian Gunung Buthak, Gunung Arjuna (sampai Puthuk Lesung), Gunung Anjasmoro, dan teman-teman sanggar, berangkatlah kami ber-7 dari Surabaya, lalu bertemu mas Bisri di Gedangan, dan melanjutkan touring malam kami sampai Pasar Lawang. Berangkat jam 00.50, sampai di Pasar Lawang pukul 02.30. Agenda selanjutnya: mencari tempat buat tidur. Dan karena ternyata pasar lawang sudah ramai, kami putuskan memilih tidur di trotoar di depan toko, persis di bawah papan petunjuk pertigaan ke Kebun Teh. Kami pilih tempat itu karena posisinya agak menjorok masuk, di depannya ada gerobak yang kosong, ada potongan container kosong, dan ada seorang nenek sudah lebih dulu tidur di dekat situ – berarti aman buat tidur 😀 Flyesheet digelar, lalu mulai tidur. Tapi ternyata cacing di perut menuntut, maka kami makan dulu bakso yang yahh.. seadanya , asal kenyang, supaya bisa tidur nyenyak. Tenda tidak dibuka, kata mas-mas yang ikut flysheet sebagai alas saja sudah cukup. Nyatanya? Mereka pada nggak tidur, zzzz…

Pukul 4.30, dingin pegunungan sudah mulai menggigit. Aku tak bisa tidur nyenyak lagi. Akhirnya mulai kontak teman-teman dari Pandaan, Singosari, dan 2 orang dari Malang. Pukul 7.10 kami beranjak dari emperan toko menuju Kebun Teh Wonosari untuk memulai trekking kami. Hmm…

Tiket masuk kebun teh Rp. 15.000/orang dan Rp. 2000/motor

Dari parkiran kami berjalan ke arah gerbang yang paling ujung, di sisi atas pujasera belakang. Ada papan petunjuk “jalur sepeda” di sisi kanan jalan berbatu setelah gerbang hijau tertutup tersebut.

img_20170219_152055

Jalan berbatu ini datar tapi naik turun tipis-tipis di beberapa bagian. Kita berada di tengah kebun the yang cukup luas, yang pohonnya rapat di sisi kiri-kanan jalan, namun hanya setinggi dada orang dewasa. Juga ada cabang pertemuan dengan jalur-jalur tembusan dari Singosari. Beda lama trekking dari kebun the vs dari Singosari sekitar 30 – 60 menit, cukup jauh 😀
Ada beberapa percabangan semacam ini, tetapi di tiap cabang ada papan petunjuk arah Budug Asu, kok. Kalau tidak ada, pilih saja jalur berbatu yang arah ke kanan. Kebun the mulai berganti menjadi tanaman kopi dan perdu rendah. Di ujung tikungan menanjak, tepat di seberang percabangan masuk ke jalur tanah motor trail, berdiri sebuah rumah kayu di sisi kiri jalan. Rumah yang tidak besar ini dijaga oleh 6 ekor anjing kampong, yang meskipun kurus-kurus tetapi tetap saja menggemaskan, apalagi ada 2 ekor yang masih anak-anak, hahaha… Bisa jadi, ini salah satu alasan mengapa tempat ini dinamakan Budug Asu. Mungkin dulu, sebelum tempat ini dikenal banyak orang, dan hanya penduduk local yang datang untuk mencari rumput bagi ternak, banyak sekali anjing di areal ini. Banyak juga yang kudisan saking liar dan tak terawatnya, mungkin, maka dinamakan “budug”.

pondok yang banyak “asu”nya 😀

Setelah melewati kebun kopi, track akan masuk ke kebun pinus yang tersusun rapi, dengan pinus-pinus yang menjulang hijau tinggi, mirip hutan pinus Imogiri-Yogya. Ada juga camp Budug Asu di tengah kebun pinus ini, berupa gang tanah selebar sebuah mobil jeep, di ujungnya ada rumah kayu, dan di belakangnya jalan tanah yang entah tembus ke mana. Penduduk local yang biasa membawa motor trail rakitan yang biasa lewat jalur tersebut.

Hati-hati berjalan di jalan berbatu ini. Bukan karena bisa menyesatkan tetapi karena kalau tidak minggir, bisa tertabrak motor trail atau jeep yang lewat. Kurang keren kan kalau masuk berita: Seorang pendaki ditemukan tertabrak motor trail :p

Setelah bertemu papan kayu “Welcome Fox Hill” di sisi kanan jalan berbatu, dengan posisi agak naik bukit, teman-teman pendaki bisa memilih jalan setapak memotong bukit ini, dengan ujung bukit Nampak di atas, atau memilih tetap lewat jalur batu yang lebih landai dan lebar, beriringan dengan jalur motor trail.

Untuk pendaki pemula, aku sarankan lewat jalur motor trail saja. Lebih lama dan panjang memang, tetapi tingkat kesulitan lebih rendah dan resiko terpeleset lebih minim. Tanahnya memang sama-sama licin, karena memang tanah liat, tetapi tidak miring sehingga tidak menguras banyak tenaga. Teman-teman akan melewati gerbang Selamat Datang Puncak Budug Asu dan pondok rental Budug Asu yang menyediakan perlengkapan untuk camping. Lanjut saja masuk lewat sisi kiri gerbang, melipir jalan setapak di sisi jalan berlumpur yang Nampak jelas bekas 2 jalur motor trailnya. Hanya sekitar 15 menit lagi sudah sampai puncak.

Untuk teman-teman pendaki yang ingin lebih cepat sampai puncak dan sudah biasa naik gunung, bisa memilih jalur setapak memotong bukit yang tembus ke savanna ilalang indah, lalu sampai di depan warung. Jangan ditanya berapa kemiringannya dan seberapa licin jalannya. Yah… jangan pernah meremehkan gunung atau bukit mana pun aja lah, hahhaha… Hampir 80o sudut kemiringannya. Maka pegangan dan tumpuan kaki harus kuat, selain pengaturan napas 😀 Mau berhenti untuk foto-foto kalau sedang tidak kabut juga boleh. Kalau sedang berkabut ya seperti ini pemandangannya. Ada issue kalau jalur ini adalah jalur lama menuju Gunung Arjuno. Bisa jadi juga sih, melihat struktur jalan setapak di seperempat track terakhir yang tampaknya bukan hasil membuka jalur baru. Kalau ke Arjuno, tentu harus menuruni punggungan ini, lalu naik ke punggungan sisi sana lagi, lebih jauh daripada jalur e Arjuno via Lawang yang sekarang.

Oke, sampai di ujung jalan tanjakan, taraa.. warung makan. Yap, bagi teman-teman yang mau tiktok saja dan malas berat-berat membawa bekal, cukup menyiapkan uang lebih untuk membeli mie rebus, nasi soto, the, kopi, susu, dll di warung ini. Harganya standard kok. Hanya saja kalau hari minggu, nasi soto cepat habis. Untungnya hari itu kami membawa bekal lengkap: mie, bakso, kuah soto, nesting, kompor. Jadilah kami buka lapak sendiri: warung mie soto bakso, hehehe…

Mau berfoto ria? Tentu saja. Jangan lupa mengambil gambar di depan puncak Ringgit, Puncak Ogal-Agil, dan di panggung selfi Fox Hill. Sayang hari itu kabut seperti tak bersahabat, dan memang mendung sejak pagi. Jadi ya kami harus puas dengan puncak Ringgit tanpa satupun foto berlatar puncak Ogal-Agil. Heheh…

Jadi rangkumannya begini:

  • Parkir motor – percabangan jalur setapak : 1 jam
  • Jalur setapak – puncak : 30 – 45 menit
  • Jalur trail – puncak : 1 jam

Total waktu tempuh       : 90 – 150 menit

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s